Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Praesent sed odio at justo auctor faucibus. Sed lorem leo, consequat non orci ac, ultrices ornare nibh. Aliquam at justo dignissim ligula viverra vulputate. Praesent elit metus, faucibus quis vestibulum eu, porta et arcu. Suspendisse potenti. Sed egestas suscipit auctor. Ut laoreet vehicula nisl sed fermentum. Maecenas vehicula tincidunt nunc, at aliquam leo ultricies sed. Etiam et erat quis purus venenatis ornare non gravida turpis.

Sed et pulvinar sem. Mauris dictum neque diam, et lobortis nisl volutpat tempor. Cras vehicula mi vel rutrum scelerisque. Morbi et nisi elit. Donec non convallis ligula. Phasellus venenatis id purus sed fringilla. Integer id sagittis quam, eget luctus mauris. Pellentesque gravida id quam ut varius.

Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos himenaeos. Nulla eu pharetra felis. Donec gravida magna id tempus dictum. Sed dignissim, enim sollicitudin consectetur ornare, diam diam feugiat lectus, id porta orci arcu et dui. Sed posuere risus egestas tincidunt viverra. Nunc nulla nisi, imperdiet nec ante eget, fringilla scelerisque sem. Praesent et nunc nulla. Aenean vitae odio et lectus pellentesque tincidunt. Donec ullamcorper faucibus metus, at rhoncus urna luctus ac. Cras porta felis a tristique commodo. Sed ante velit, mollis ac ligula vitae, vehicula volutpat nunc. Nunc dignissim dictum ullamcorper. In hac habitasse platea dictumst. Aliquam maximus ipsum vel tristique fringilla. Quisque id maximus risus. Pellentesque commodo lacinia aliquam.

Praesent consequat finibus quam, nec accumsan purus. Phasellus imperdiet diam tellus, vitae egestas lectus ultrices at. Nullam magna ligula, interdum vel odio et, laoreet elementum mauris. Praesent convallis nisl vel purus scelerisque, sit amet pellentesque purus imperdiet. Vivamus vestibulum ipsum ante, nec varius mauris sollicitudin ut. Vestibulum nunc risus, interdum mollis ultricies in, blandit ac elit. Aliquam erat volutpat. Vestibulum a mauris nec arcu elementum pretium vitae non metus. Sed enim mi, laoreet at accumsan ut, sodales a quam. In pulvinar vehicula dui, in placerat dolor accumsan non. Aenean elit erat, ornare sed hendrerit venenatis, iaculis a leo. Curabitur eget turpis quam. Integer nunc tellus, efficitur at sagittis sit amet, scelerisque eu odio. Aliquam erat volutpat.

Alkisah, Rama mengutus Sugriwa untuk mencari Sita. Sang Sugriwa mencari ke mana-mana. Dari Yawadwipa sampai Swarnadwipa, sampai akhirnya menemukan sang putri tertunduk lesu di halaman istana Alengka Pura. Benar saja, ternyata Rahwana membawa sang putri ke istananya…

Boarding Pass :)).

Boarding Pass :)).

Aku menatap laut Jakarta yang kini berganti daratan yang belum pernah kulihat. Pesawat komersial ini membawaku dan Mas Ali, seorang teman, pergi ke pulau yang dikata pujangga adalah pulau emas. Batas Sugriwa mencari junjungannya, selain pulau padi di selatan. Pada dinding barat Nusantara.

Swarnadwipa. Sumatra.

Oke, Gar, cukup dengan gaya puitis melankolisnya. Intinya, 29 Oktober 2014 adalah kali pertama kedua kaki ini menjejak Sumatra. Pada petualangan ini, saya dan Mas Al dibawa ke ujung selatan Sumatra, yakni Provinsi Lampung.

Sumarta, eh, maksudnya Sumatra, memberi kesan pertama yang agak misterius. Sepanjang penerbangan, saya mendapati lautan pepohonan, berbeda dengan panorama sawah-tambak-kota yang biasa saya jumpai di penerbangan lintas Jawa-Bali-Lombok, rute kebangsaan yang biasa saya lakoni ketika pulang mudik. Tapi di Sumatra, berbeda. Deretan pohon berbaris rapi pada lahan-lahan berbentuk pasti. Sungai-sungai masif terlewati, ukuran mereka seperti yang saya lihat di televisi. Jauh lebih besar daripada Kali Ciliwung :malu.

Tapi, ada juga pemandangan lahan gundul. Bukit yang digerus penambangan bahan galian, atau lahan dengan sisa-sisa pohon yang menghitam akibat habis terbakar. Saya berharap, semoga saja pembakaran lahan itu tidak dilakukan secara ilegal.

Tak ada pohon, hanya ladang (terus yang di pinggir jalan itu apa?).

Tak ada pohon, hanya ladang (terus yang di pinggir jalan itu apa?).

Hotel? Hotel!

Tujuan kami ke Lampung sebenarnya bukan kota Bandar Lampung. Melainkan sebuah kota di Lampung Tengah (atau Timur?), bernama Metro. Oleh karenanya, kami menginap di sebuah hotel di dekat bandara. Ingin menginap di Metro, tapi seluruh hotelnya juga sudah penuh. Mau menginap di Bandar Lampung, terlalu jauh kalau harus ke Metro, dan kalau saja kami jadi menginap di ibukota, mau tidak mau harus menyewa mobil dengan ongkos yang tidak sedikit.

Pemandangan dari jendela pesawat.

Pemandangan dari jendela pesawat.

Nama hotel itu, Bandara Sofyan Hotel. Penjemputan tamu dari bandara gratis, sedangkan pengantaran ke bandara (Bandara Radin Inten II) dikenakan biaya Rp50k.

Sepertinya hotel ini familiar. Tapi aku baru sadar ketika Mas Al berkata di mobil, “Hotelnya Marsh*nda, Gar.”

Oh iya. Aku jadinya cuma bisa ketawa.

Jelas saja penjemputan dari bandara tidak dikenakan biaya. Dekat begini! Tapi ternyata, lokasi yang tidak seberapa jauh dari bandara membawa masalah tersendiri. This hotel is out of (absolutely) nowhere… hampir tak ada apa-apa di dekat hotel ini selain beberapa minimarket di tepi jalan yang sepi. Bahkan perkampungan pun agak sulit ditemukan, umumnya mereka masuk ke dalam gang.

Pemandangan depan hotel.

Pemandangan depan hotel.

Padahal, sejauh yang saya tahu, sebuah hotel semestinya dekat dengan dua tempat, (1) pusat kota, atau (2) tempat wisata. Saya tumben menemukan hotel di dekat bandara. Tapi mungkin, hotel ini dibangun sebagai tempat transit, bagi para traveller yang kemalaman dan menunggu penerbangan esok hari, atau bagi wisatawan yang tujuannya bukan pusat kota ataupun tempat wisata (seperti kami?).

Dan sudahkah saya katakan bahwa hotel ini letaknya di tepi Jalur Lintas Sumatra a.k.a. Jalinsum sehingga kendaraan kecil maupun besar berseliweran dengan kecepatan tinggi?

Yah, intinya, karena kami sudah kadung menginap di sini, tampaknya kami harus menjadi traveller kreatif, dengan memanfaatkan setiap spot yang ada sebagai tempat yang memiliki cerita. Tentunya dengan tidak mengada-ada. Tapi, tapi, kalau saya boleh mengeluh, sekalii saja, saya memang suka perjalanan, saya suka “jalan”, tapi tidak selalu arti “jalan” adalah “kumpulan lajur beraspal yang bermarka tempat kendaraan berpindah” juga, kan… sepertinya saya harus mengakui bahwa kali ini saya salah pilih hotel :haha.

Air mancur kecil yang jadi objek penderita.

Air mancur kecil yang jadi objek penderita.

Untuk ukuran hotel, tempat ini cukup baik. Bersih dan nyaman. Dan saya juga baru tahu kalau hotel ini dikelola sesuai syariah. Artinya, bagi laki-laki dan perempuan yang ingin menginap dalam satu kamar, mutlak menunjukkan KTP yang beralamat sama, juga buku nikah mereka. Saya pikir itu langkah yang bagus, jadi tamu-tamu yang lain (seperti saya) secara tidak langsung merasa nyaman menginap di sini, karena tahu tidak ada hal-hal “aneh” (you know what I mean) dilakukan oleh tamu-tamu lain.

Kamar kami! Cukup nyaman :)).

Kamar kami! Cukup nyaman :)).

Kendati kalau hal-hal “aneh” itu dilakukan oleh “sesama” saya juga nggak tahu, sih…

Gah! Kenapa jadi berpikir yang aneh-aneh begitu?? Aneh! Tidaak!

Okelah, mari menjemput malam.

Wah, di depan sana ada pemandangan menarik.

Burung-burung kecil, mungkin burung pipit, atau burung layang-layang, atau burung gereja (saya tidak tahu, soalnya saya bukan ornitolog), berkumpul, berbaris rapi pada kabel-kabel listrik yang membentang di depan hotel. Mungkin mereka ingin beristirahat. Cantik sekali, seperti tetes-tetes air berjajar kalau dilihat dari kejauhan. Sayang, saya tak bisa mengambil gambarnya karena lupa membawa tripod, jadi kalau rana kamera saya biarkan terbuka cukup lama dengan hanya dipegang tangan maka gambarnya pasti jadi kabur. Ah, saya mau sombong, mungkin pemandangan itu hanya disediakan khusus bagi saya untuk dinikmati :hihi.

Menatap burung, entah kenapa selalu memberi saya pelajaran baru tentang makna kebebasan yang menghargai makhluk lain. Saat malam turun, mereka kompak bertengger di sepanjang tiang listrik. Saya rasa mereka sudah memiliki tempat masing-masing, siapa di samping siapa. Dan ketika fajar menjelang, apa yang saya saksikan sungguh spektakuler: sebelum matahari menunjukkan tubuhnya, tatkala yang menjumpa makhluk baru merupakan berkas-berkas jingga di ufuk, mereka semua pergi dalam saat yang hampir bersamaan, untuk kembali mengarungi kehidupan. Lautan burung beterbangan menghias awan, berkejaran dengan sinar mentari, sebelum sirna secara keseluruhan tatkala cahaya sang surya mengisi mata. Entah, mereka menghilang ke mana, yang jelas ketika matahari terbenam seutuhnya senja nanti, mereka sudah kembali ke kabel-kabel listrik itu, menyaksikan malam yang menggeliat, menuntut semua ciptaan Tuhan untuk beristirahat.

Dari burung-burung itu, saya juga belajar menikmati hari.

20141111_081659

Matahari sore yang kini mulai menghangat memandikan Meulaboh dengan cahayanya yang kekuningan. Bangun-bangunan pertokoan sepanjang jalan utama memasang penghalang agar cahaya itu tak merusak barang-barang yang dipajang, yang sebagian besar adalah bahan makanan atau tekstil yang sensitif dengan teriknya cahaya matahari.

Saya tak melihat adanya gapura besar yang menandakan kami sudah ada di kota. Hanya perubahan pemandangan, dari yang sebelumnya banyak pepohonan, menjadi pertokoan dengan bangunan-bangunan relatif baru, sebagai tanda bahwa kami kini berada di Meulaboh. Tentunya juga dengan beberapa tulis-tulisan di plang nama toko atau kantor yang menandakan bahwa ini Meulaboh, bukan Langsa atau Kutacane ya iyalah. Read More →

Ayo bersiap, Kawan!

Pagi tanggal 30 Oktober 2014, kami melanjutkan perjalanan dari Candimas, Natar, Lampung Selatan, menuju Metro, Lampung Timur. Kami mengawalinya dengan sarapan di restoran hotel, yang sebenarnya sempat saya sangka rumah makan Padang gara-gara hotel ini satu pekarangan dengan restoran Padang. Ternyata bukan, restoran ini ada di sebuah ruangan tepat di sebelah restoran Padang itu. (Untung saja kami jadi sarapan, pada awalnya kami bahkan tak mau menyambangi tempat makan itu gara-gara agak ogah makan masakan Padang pagi-pagi :haha). Read More →

Becak motor kami berhenti di sebuah perempatan. Sembari menunggu kendaraan lain bergerak, saya mengintip langit di atas sana, bersama keadaan di sekitar kami.

Inilah Medan. Kota yang di dalam benak saya mendapat julukan kota perkebunan. Beda dengan Jakarta kota pemerintahan, Malang kota tetirah, bagi saya Medan adalah pusat ekonomi perkebunan, karena dari sinilah, ekonomi Hindia Belanda pada paruh awal abad 19 mulai menuai hasil berlimpah untuk pemerintahan kolonial, berupa karet dan kelapa sawit.

Demi Tuhan! Itu bangunan apa?

Sebuah menara air tegak berdiri menentang keramaian jalan ibukota provinsi. Rangka besi tebal menjadi penyangga, menjaga tabung besar dari kemungkinan tumpah. Sebuah dasar yang mirip benteng dapat dilihat, bertuliskan angka 1908. Yang unik, tabung besar yang tampak seperti disusun dari plat-plat besi ini berjendela, dan catnya yang krem cokelat selang-seling mengingatkan saya pada nuansa country di benua Amerika.

Saya membayangkan sapi yang sedang mengunyah jerami. Babi-babi mandi di kubangan, ditingkahi suara ribut gosip ayam betina dari dalam gedung kayu besar bercat serupa. Ha, imajinasi saya terlalu nakal.

Beberapa kali kami melewati bangunan itu dan saya belum dapat memastikan fungsi menara ini, sampai bentor kami berbelok kiri di perempatan (biasanya kami selalu menikung ke kanan), dan nama PDAM Tirtanadi menjadi tanda kalau ini adalah perusahaan air minum kota Medan.

Agaknya, menara ini merupakan penyimpan air di kota kala pusat pengelolaan perkebunan ini berada dalam masa perkembangannya. Menara yang ternyata punya sejarah panjang, sepanjang sejarah perusahaan air itu sendiri.

menara-air-kota-medan-04

Ia yang punya sejarah panjang, berpendar di tengah malam.

Read More →

Blog ini menyeramkan. Sangat.

Halo, dan selamat datang. Saya masih berkutat dengan error kebangsaan yang ada di blog ini: mengapa yang muncul di WP Reader masih komentar-komentar dan bukan postingan. Bahasa teknisnya, yang ditarik sebagai feed di WP Reader adalah comments feed, bukan posts feed sebagaimana mestinya blog swakelola dalam WP Reader. Padahal, feed untuk blog ini (mencarijejak.com/feed/) sama sekali tak bermasalah. Bisa dicek sendiri.

Saya sudah melakukan beberapa cara (yang mungkin) untuk mencari di mana penyebab kesalahan itu. Read More →

In response to the Daily Post’s Weekly Photo Challenge: Face.

There is a face of a statue that represents beauty and fertility. I took this photo in Petirtaan Belahan, a place where Airlangga, the first king who conquered East Java in early 11th century, worshipped as Vishnu. This statue itself depicts Dewi Sri, one of Vishnu’s shaktis. Javanese (and Balinese) people know this goddess as the goddess of rice and paddy field.

dewi-sri-petirtaan-belahan

Dewi Sri

As long as I could remember, this statue, as well as the patirthaan, was built in the middle of 11th century–somewhere between 1040 and 1050, the year of Airlangga’s death. Airlangga’s statue was here, too–as Garuda Wisnu Kencana, or Vishnu who rides Garuda, but the statue isn’t in this patirtaan anymore–it is stored in Trowulan Museum in Mojokerto. Only the statue of Sri and Laksmi–the latter one has water pouring from her breasts–left in the Candi Sumber Tetek. The name “Sumber Tetek” derived from the pouring water–you should come and see by yourself :)).

Dewi Sri is pretty, isn’t it? With her closed eyes and mysterious smile, this is one beautiful statue left by Airlangga’s reign.

Come and visit the place!

judul-tri-semaya-candi-pariDalam filsafat Hindu, ada tiga ruangan waktu untuk mengambil kesimpulan akan sesuatu. Tiga serangkai itu dinamakan Tri Semaya, atau tiga dimensi kehidupan, terdiri dari Atita (masa lalu), Nagata (masa kini), dan Wartamana (masa depan). Ketika seseorang sudah maklum dan bijak soal apa yang terjadi di masa lalu, menjaga yang ada sekarang, dan bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi, barulah pemahaman yang mutlak dan hakiki bisa terbentuk.

Tatkala hal itu terjadi, di satu sisi manusia bisa melestarikan peninggalan masa lalunya, sangat adaptif terhadap perubahan, dan di saat yang sama, bisa menikmati kehidupan dengan sepenuh-penuhnya, tanpa terikat oleh dosa masa lalu maupun terancam ketakutan oleh ketidakpastian masa depan. Read More →

Pertanyaan selanjutnya harus langsung menuju topik permasalahan. Namun kata-katanya harus dipilih dengan sangat hati-hati.

“Saya lihat di dalam sana ada… itu Pak, semacam dupa, dan persembahan berupa kelapa, telur, dan segala macam. Apakah candi ini masih dipakai sebagai tempat ibadah?”

Saya tidak begitu kaget bahwa demikianlah adanya. Pancingan mengena. Si bapak penjaga (yang sialnya saya lupa bertanya nama beliau) mengiyakan. Memang masih banyak orang yang menjadikan Candi Pari ini sebagai tempat ibadah. Beberapa waktu lalu bahkan ada rombongan dari Bali mengadakan upacara kecil di tempat ini.

kelinci-bulan-candi-pari-04

Ini tempat ibadah, bukan tempat mengalap berkah.

Candi-candi di daerah Jawa Timur umumnya masih digunakan sebagai tempat peribadatan dalam intensitas yang lebih tinggi ketimbang candi di Jawa Tengah. Akan umum ditemui tempayan kecil penuh abu dupa, atau wangi kemenyan yang semerbak menerjang di bilik candi, begitu pengunjung melangkahkan kaki untuk pertama kalinya.

Para juru pelihara candi tidak pernah melarang siapa pun yang ingin beribadah di candi yang mereka jaga. Namun tentu, siapa pun yang beribadah di sini mesti mengindahkan peraturan di bidang cagar budaya; bahwa siapa pun dilarang mengubah bentuk, memindahkan, atau merusak cagar budaya. Bagi saya, tak cuma orang yang beribadah; siapa pun yang mengunjungi cagar budaya wajib mematuhi peraturan tersebut. Read More →